4
Kabupaten Bengkalis mempunyai letak yang sangat strategis, karena dilalui oleh jalur perkapalan internasional menuju ke Selat Malaka. Bengkalis juga termasuk dalam salah satu program Indonesia Malaysia Singapore Growth Triangle (IMS-GT) dan Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle (IMT-GT).
Pantai Pasir Panjang di Pulau Rupat
Berlokasi di Selat Malaka dan merupakan pantai kebangaan dari 3 daerah di Pulau Rupat, yaitu Tanjung Medang, Tanjung Rhu, dan Tanjung Punak. Tempat ini dapat dicapai dengan boat kecil yang dikenal dengan nama ‘pompong’ dari Dumai. Perjalanan akan memakan waktu selama 15 menit dengan boat dan 45 menit dengan kendaraan beroda dua (ojek). Jalur ini dilalui oleh boat nasional dan pengunjung internasional karena keindahan pantai Rupat dan pemandangan laut yang nyaman. Rencananya akan dibangun jembatan sepanjang 50 km untuk menghubungkan pulau ini dengan Malaka – Malaysia. Di pulau Rupat juga dapat ditemukan komunitas suku terbelakang yang disebut dengan suku Akit yang melakukan berbagai atraksi untuk menghibur pengunjung.
5
1. KONDISI FISIK
Wilayah Pulau Rupat merupakan bagian dari Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Secara administratif, Pulau Rupat berbatasan dengan: Sebelah utara : berbatasan dengan Selat Malaka Sebelah selatan : berbatasan dengan Kota Dumai Sebelah barat : berbatasan dengan Kabupaten Rokan Hilir dan Kota Dumai Sebelah timur : berbatasan dengan Kecamatan Bengkalis Pulau Rupat berada di sebelah timur Pulau Sumatera dengan luas wilayah 1,524.55 km
2
. KTM Pulau Rupat terdiri dari 2 kecamatan yaitu Kecamatan Rupat dan Kecamatan Rupat Utara. Kecamatan Rupat meliputi 10 desa/kelurahan dan Kecamatan Rupat Utara meliputi 5 desa/kelurahan.
Profil Kecamatan dan Desa/Kelurahan di Pulau Rupat
Kecamatan Desa/Kelurahan Luas Ha %
Rupat Batu Panjang 13,868.13 9.12 Hutan Panjang 16,358.76 10.76 Makeruh 2,784.14 1.83 Pangkalan Nyirih 5,962.11 3.92 Pergam 5,657.54 3.72 Sei Cingam 2,838.78 1.87 Sukarjo Mesim 1,392.77 0.92 Tanjung Kapal 31,324.87 20.60 Teluk Lecah 12,525.38 8.24 Terkul 9,113.13 5.99 Rupat Utara Kadur 4,872.39 3.20 Tanjung Medang 2,656.76 1.75 Tanjung Punak 2,860.60 1.88 Teluk Rhu 2,987.54 1.96 Titi Akar 36,838.74 24.23
Jumlah 152,041.64
100
Geologi
Formasi-formasi utama yang menyusun Pulau Rupat terdiri dari formasi Endapan Permukaan Muda (Qh) dan Formasi Endapan Permukaan Tua (QP).
6
Sistem Lahan
Pulau Rupat tersusun atas 8 (delapan) sistem lahan, yaitu sistem-sistem lahan Beliti, Gambut, Kahayan, Kajapah, Mendawai, Muara Beliti, Puting, dan Sungai. Sistem lahan yang memiliki luasan terbesar adalah sistem lahan Mendawai (A11), yaitu seluas 48,954.69 hektar atau 32.20% dari keseluruhan luas Pulau Rupat. Sistem lahan ini merupakan rawa-rawa gambut dangkal.
Satuan Lahan
Satuan lahan di Pulau Rupat dapat dikelompokkan kedalam 2 kelompok satuan lahan, yaitu kelompok satuan lahan kubah gambut (D) dengan areal terluas adalah kubah gambut oligotropik air tawar (38.430,94 ha) dan kelompok satuan lahan marin (B) yang meliputi 41,85% luas Pulau Rupat.
Jenis Tanah
Jenis tanah di Pulau Rupat dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah kelompok tanah mineral dengan tingkat perkembangan muda, baik dengan ciri hidromorfik maupun tanpa ciri hidromorfik. Seluas 52.613,46 Ha kelompok kedua adalah kelompok tanah-tanah organik, atau secara populer sering disebut sebagai tanah gambut seluas 88.409,62 Ha.
Liputan Lahan
Liputan lahan Pulau Rupat mencakup 7 (tujuh) jenis liputan lahan, yaitu Sungai / Danau, Hutan, Pemukiman, Perkebunan, Rawa, Sawah Irigasi, dan Tanah Ladang.
Topografi dan Ketinggian Tempat
Wilayah KTM Pulau Rupat berbentuk dataran rendah. Ketinggian maksimum adalah 25 m di atas permukaan laut (dpl). Pulau Rupat memiliki topografi datar. Kelas kemiringan lereng dominan adalah kelas 0-3%.
Iklim
Tipe iklim : Tropis Jumlah curah hujan : 2,356 mm/tahun Temperatur udara : 25,5-26,4
o
C Tekanan udara rata-rata : 1.010,5
Hidrologi
Pulau Rupat memiliki 6 buah sungai, yaitu Sungai Senebak, Sungai Raya, Sungai Rempang, Sungai Nyiur, Sungai Sair dan Sungai Penonton. Lebar Sungai berkisar antara 8 - 15 m dengan kedalaman 0,5 – 1,5 m. Debit sesaat diperkirakan berkisar antara 3,6 – 6,0 m
3
/dtk, dengan dasar sungai berlumpur, pasir dan kwarsa. Potensi sedimentasi seluruh sungai berkisar antara 8,09 – 31,6 ton/tahun.
7
Oseanografi
Kedalaman perairan di sekitar Selat Rupat terdapat palung-palung yang relatif terjal. Perairan di sebelah barat, yaitu yang mengarah ke Selat Malaka memiliki dataran bawah lautnya relatif datar. Kedalaman perairan sebelah timur, selatan dan utara Pulau Rupat berkisar antara 10 sampai 30 m, sedangkan kedalaman perairan di sebelah timur laut dan timur berkisar antara 30 sampai >50 m. Kedalaman perairan tertinggi adalah 27 m terletak di Selat Rupat.
Vegetasi dan Satwa
Pulau Rupat mempunyai beberapa tipologi ekosistem, di antaranya semak belukar, habitat hutan mangrove, dan habitat hutan sekunder. Ekosistem semak belukar dan habitat hutan sekunder hampir dapat dijumpai di seluruh wilayah pulau, sedangkan habitat hutan mangrove dijumpai di sepanjang pesisir pulau. Ekosistem ini memiliki keterkaitan yang erat dengan vegetasi yang tumbuh dan satwa yang dapat hidup di habitat tersebut.
2. KONDISI SOSIAL-DEMOGRAFIS
Jumlah Penduduk
Total seluruh jumlah penduduk Pulau Rupat di dua kecamatan adalah sebanyak 42.077 Jiwa, yang meliputi 9.057 KK. jumlah penduduk pria dan wanita yang relatif seimbang di seluruh Pulau Rupat.
Data Kependudukan di Pulau Rupat :
Kecamatan Luas (km
2
) KK Jumlah Penduduk Laki-laki Perempuan Jumlah Rupat 928,4 6.154 15.381 15.088 30.469 Rupat Utara 638,5 2.903 5.752 5.856 11.608
Total 1.566,9 9.057 21.133 20.944 42.077
Aspek Sosial-Budaya
Pada umumnya, struktur komunitas masyarakat di Pulau Rupat masih mempertimbangkan status sosial. Hal ini terlihat dari kenyataan bahwa pada umumnya, pegawai negeri/ABRI mendapat penghargaan dari masyarakat karena dianggap sangat menentukan dan berjasa dalam kegiatan pemerintahan. Pedagang pengumpul (tokeh) juga mendapatkan penghargaan dari masyarakat karena ia memiliki kekayaan yang berpengaruh dalam kegiatan perekonomian masyarakat. Sedangkan, kepala suku, tokoh agama, dan cerdik cendekia mendapat penghargaan dari masyarakat karena dapat membuat keputusan dan mempengaruhi tatanan hidup yang berlaku dalam masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar